20 tahun Playstation

Dimana-mana ramai tentang perayaan 20 tahun Playstation. Saya iseng ikutan, ah~

PS adalah konsol Nextgen pertama yang saya miliki, dan saya pertahankan selama mungkin, cuma berpisah akibat hancur kerendam banjir tahun 2002.

Saya pertama kali beli PSX sewaktu cawu 2 kelas 1 SMA. Agak lama setelah rilisnya di Indonesia. Alasannya? Rapor saya ada merah di cawu 1, makanya nggak dapat lampu hijau buat beli

17314

Beberapa game awal yang saya punya, dan sampai sekarang masih berkesan adalah Battle Arena Toh-Shin-Den 2 dan 3 untuk game fighting. Saya nggak pernah lupa openingnya, yang kalau dilihat sekarang mungkin bisa bikin ketawa saking cupunya.
Masih di ranah game fighting, saya juga termasuk yang main Tekken dari seri kedua, dan walau nggak bisa dibilang hardcore, saya tetap menganggap itu game yang oke. Apalagi CG-nya termasuk paling oke. Mengalahkan Soul Edge, yang sebenernya lebih saya suka ceritanya. Tapi, game fighting grafis ‘biasa’ yang dulu benar-benar bikin saya kecanduan, baik dari segi cerita, style dan opening adalah Psychic Force. Sayang game ini nggak terlalu berkembang, tapi nggak apa, deh. Yang penting saya udah sempat beli novelisasinya dulu

143186

Genre lain, yang ada nilai nostalgianya adalah RPG.
Berkat PSX-lah saya kenal sama genre ini, dan saya cukup beruntung karena memulai dengan Wild Arms. Terlepas saya nggak main dengan mahir di awal, menamatkan dengan super empot-empotan, saya nggak akan lupa semua kenangan waktu memainkan game satu ini.

Satu lagi judul yang berkesan saking susahnya adalah Xenogears. Saya nggak bisa mencintai judul ini karena ceritanya bikin sakit kepala, dan sekali lagi, susahnya aduh!
Sebenernya, sebagian salah saya sendiri sih… Mainnya pakai pakem Hajar-Sampai-Mati, padahal ini mesti main taktis sedikit

442418

Tapi, berkat Xenogear juga saya mulai kecanduan dan serius menekuni game bahasa Jepang. Terutama buat dubbingnya. Dan ini kayaknya bikin PSX saya mulai ajaib, karena lama-kelamaan sepertinya semua game barat ditolak sama dia. Bahkan Metal Gear Sulit Solid aja begitu dapat yang versi JP langsung retak itu CD yang versi US-nya. Oke, mungkin memang apes aja itu CD, soalnya memang kejadiannya setelah insiden sama beberapa oknum, sih…

Menginjak tahun-tahun berikut, saya mulai menjajal semua jenis game yang tampak menarik. Beberapa jadi genre favorit, seperti lovesims, dan beberapa jadi tipe yang lirik-main-tapi-nggak-jago. Game ritme, tuh, terutama. Suka mainnya, suka lagunya, tapi Puji Tuhan, NGGAK PERNAH JAGO!!

140947

Tahun 2002, PS2 akhirnya muncul di toko langganan. Setelah nabung uang jajan mati-matian, langsung beli!
Dan tragedi langsung datang dua minggu setelahnya.
Banjir jakarta 2002.
Korbannya?
Semua manga koleksi saya, dan PS2 serta PSX, serta game-game saya.
Yang terakhir itu masih bisa ditemukan beberapa, tapi…yah…
Nggak pernah sama lagi.

Setelahnya, saya mengandalkan PSX di kantor Hotgame yang waktu itu masih berupa bedeng di luar gedung Jalan Panjang (yang banyak setannya kalau udah malam), bahkan sempat beli seken punya orang kantor.
Di masa ini juga saya mulai kontribusi di majalah tersebut, yang sangat penuh kenangan. Mulai dari berantem rebutan TV dengan penggemar sinetron di rumah, sampai main Silent Hill 2 dengan dibarengi Ada Apa Dengan Cinta.
Adapun PS2 pengganti saya beli setahun setelahnya, dan Alhamdulillah sampai sekarang masih utuh. Tersimpan di dalam tas, karena hingga 2014 ini rumah saya masih sering kedatangan tamu basah itu, dan mengingat PS2 kedua saya ini termasuk limited edition (warna BIRU transpara, boo), sebisa mungkin saya jaga, deh.

Masuk zaman PS3… Saya nggak terlalu aktif lagi belanja game, karena selain harganya mahal, opsinya makin menyempit. Saya akhirnya beralih ke PSP sebagai ‘base’ utama. Dan hingga kini, walau sudah ada PS4 (belum punya) dan PSVita, PSP masih jadi favorit saya.
Yang satu ini sudah ganti tiga kali, karena yang pertama kebanjiran tahun 2007, yang kedua mati tua (batere jebol, kontroller koit, dan layar mulai deadpixel), dan yang ketiga… Lebih baik nggak usah disinggung, deh…

Dua puluh tahun.
Ratusan cerita, ribuan pengalaman, jutaan emosi.

Terima kasih, SONY!!!

Iklan
Categories: Game, 日課 | Tag: , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “20 tahun Playstation

  1. Ivon

    Silent Hill: AADC

    Yes.

    Rasanya 3 dari 5 konsol yg oyabun miliki rusaknya karena banjir ya. :/ jadi paham sih,knapa oyabun benci hujan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: